Penilaian Prestasi Kerja
NAMA : NADYA
KHAVIRA PUTRI
NPM : 26217746
KELAS : 4EB10
Arti Pentingnya Penilaian
Prestasi Kerja
Penilaian prestasi kerja adalah sebagai
penyedia informasi yang sangat membantu dalam membuat dan menerapkan
keputusan-keputusan seperti promosi jabatan, peningkatan gaji, pemutusan
hubungan kerja dan transfer (Flippo, 1996:84). Pengertian
penilaian prestasi kerja menurut Lloyd L. Byars dan Leslie W. Rue (2004:251)
adalah Performance appraisal is a process of determining and
communicating to an employee how he or she is performing on the job, and
ideally, establishing a plan of improvement. Penilaian prestasi kerja
karyawan adalah proses untuk menentukan dan mengkomunikasikan kepada karyawan
tentang bagaimana performanya dalam melakukan pekerjaannya dan idealnya,
membuat rencana untuk membangun kariernya.
Tujuan dan Hal yang Perlu
Diperhatikan dalam Penilaian Prestasi Kerja
Menurut Rahmanto, penilaian
prestasi kerja mempunyai tujuan untuk:
- Membedakan tingkat prestasi kerja
setiap karyawan.
- Pengambilan keputusan administrasi
seperti: seleksi, promosi, retention, demotion, transfer, termination, dan
kenaikan gaji.
- Pemberian
pinalti seperti: bimbingan untuk meningkatkan motivasi dan diklat untuk
mengembangkan keahlian.
Menurut
Hasibuan (2005) tujuan penilaian prestasi kerja karyawan sebagai berikut:
1. Sebagai dasar dalam pengambilan keputusan yang
digunakan untuk promosi, demosi, pemberhentian dan penetapan besarnya balas
jasa.
2. Untuk mengukur prestasi karyawan yaitu sejauh mana
karyawan bisa sukses dalam pekerjaannya.
3. Sebagai dasar untuk mengevaluasi efektivitas seluruh
kegiatan di dalam perusahaan.
4. Sebagai dasar untuk mengevaluasi program latihan dan
keefektifan jadwal kerja, metode kerja, struktur organisasi, gaya pengawasan,
kondisi kerja.
5. Sebagai indikator untuk menentukan kebutuhan akan
latihan bagi karyawan yang berada di dalam organisasi.
6. Sebagai alat untuk meningkatkan motivasi kerja
karyawan sehingga dicapai tujuan untuk mendapatkan performance kerja yang baik.
7. Sebagai alat untuk mendorong atau membiasakan para
atasan untuk mengobservasi perilaku bawahan supaya diketahui minat dan
kebutuhan-kebutuhan bawahannya.
8. Sebagai alat untuk bisa melihat kekurangan atau
kelemahan-kelemahan di masa lampau dan meningkatkan kemampuan karyawan
selanjutnya.
9. Sebagai kriteria di dalam menentukan seleksi dan
penempatan karyawan.
10. Sebagai alat
mengidentifikasi kelemahan-kelemahan personel dan dengan demikian bisa
sebagai bahan pertimbangan agar bisa diikutsertakan dalam program latihan kerja
tambahan.
11. Sebagai alat untuk memperbaiki atau mengembangkan
kecakapan karyawan.
12. Sebagai dasar untuk memperbaiki dan mengembangkan
uraian pekerjaan.
Penilaian yang baik harus dapat memberikan gambaran yang
akurat tentang yang diukur. Artinya penilaian tersebut benar-benar menilai
prestasi pekerjaan karyawan yang dinilai. Agar penilaian mencapai tujuan maka
ada 2 hal yang perlu diperhatikan yakni:
1.
Penilaian harus mempunyai hubungan yang related deengan
pekerjaan ( job related ). Artinya sistem penilaian itu benar-benar menilai
perilaku atau kerja yang mendukung kegiatan organisasi dimana karyawan itu
bekerja.
2.
Adanya standar pelaksanaan pekerjaan (performance
standards). Standar pelaksanaan adalah ukuran yang dipakai untuk menilai
prestasi kerja tersebut. Agar penilaian itu efektif, maka standar penilaian
hendaknya berhubungan dengan hasil yang diinginkan setiap pekerjaan.
Unsur-unsur Pelaksanaan dalam
Penilaian Prestasi Kerja
Menurut (Hasibun, 2002: 59) unsur-unsur
penilaian kinerja adalah sebagai berikut:
- Prestasi. Penilaian
hasil kerja baik kualitas maupun kuantitas yang dapat di hasilkan
karyawan.
- Kedisiplinan. Penilaian
disiplin dalam mematuhi peraturan-peraturan yang ada dan melakukan
pekerjaan sesuai dengan intruksi yang diberikan kepadanya.
- Kreativitas. Penilaian
kemampuan karywan dalam mengembangkan kreatifitas untuk menyelesaikan
pekerjaannya sehingga dapat bekerja lebih berdaya guna dan berhasil
guna.
- Bekerja
sama. Penilaian kesediaan karyawan berpartipasi dan bekerja sama
dengan karyawan lain secara vertikal atau horizontal didalam maupun
diluar sehingga hasil pekerjaannya lebih baik.
- Kecakapan. Penilaian
dalam menyatukan dan melaraskan
bermacam- macam elemen yang terlibat dalam menyusun kebijaksanaan
dan dalam situasi manajemen.
- Tanggung
jawab. Penilaian kesediaan karyawan dalam memper
tanggung jawabkan kebijaksanaannya, pekerjaan dan hasil
kerjanya, sarana dan prasarana yang digunakan, serta
perilaku pekerjaannya.
Masalah dalam Penilaian
Menurut Mondy & Noe(2005) masalah
yang berkaitan dengan penilaian kinerja adalah:
- Kurangnya
objektivitas
Salah satu kelemahan
metode penilain kinerja tradisional adalah kurangnya objektivitas. Dalam
metode rating scale, misalnya, faktor-faktor yang lazim
digunakan seperti sikap, loyalitas dan kepribadian adalah faktor-faktor yang
sulit diukur. Penggunaan faktor-faktor yang terkait dengan pekerjaan (job
related factors) dapat meningkatkan objektivitas.
- Bias “Hallo
error”
Bias “Hallo error” terjadi bila penilai
mempersepsikan satu faktor sebagai kriteria yang paling penting dan memberikan
penilaian umum baik atau buruk berdasarkan faktor tunggal ini.
- Terlalu
“longggar” / terlalu “ketat”
Penilai terlalu
“longggar” (leniency) kecenderungan memberi nilai tinggi kepada yang
tidak berhak, penilai memberi nilai lebih tinggi dari seharusnya.
Penilai terlalu “ketat”
(strictness) terlalu kritis atas kinerja seorang pekerja (terlalu
“ketat” dalam memberikan nilai). Penilaian yang terlalu ketat biasanya terjadi
bila manajer tidak mempunyai definisi atau batasan yang akurat tentang berbagai
faktor penilaian.
- Kecenderungan
memberikan nilai tengah
Kecenderungan memberi
nilai tengah (Central tendency), terjadi bila pekerja di beri nilai
rata-rata secara tidak tepat atau di tengah-tengah skala penilaian, Biasanya,
penilai memberi nilai tengah karena ingin menghindari kontroversi atau kritik.
- Bias
perilaku terbaru
Bias perilaku terbaru (recent
behavior bias) , perilaku atau kinerja yang paling akhir akan lebih mudah
diingat daripada perilaku yang telah lama. Penilai cenderung lebih banyak
menilai kinerja yang tampak menjelang atau pada saat proses penilaian
dilakukan. Seharusnya penilaian kinerja mencakup periode waktu tertentu.
- Bias
pribadi (stereotype)
Penyelia yang melakukan
penilaian bisa saja memiliki bias yang berkaitan dengan karakteristik pribadi
pekerja seperti suku, agama, gender atau usia. Meskipun ada peraturan atau
undang-undang yang melindugi pekerja, diskriminasi tetap menjadi masalah dalam
penilain kinerja.
Referensi
http://alfinursyifah.blogspot.com/2019/12/penilaian-prestasi-kerja.html
https://agamns.wordpress.com/2019/11/28/penilaian-prestasi-kerja/
Komentar
Posting Komentar